Setiap pulang kerumah itu-itu
saja yang dibahas, bosan dan muak aku mendengar ocehan kalian, apakah tidak ada
pertanyaan lain? Atau pun pembicaraan yang lain?
“kapan kau bawa pacar mu
kerumah?, kapan kau mulai memikirkan pernikahan?, Kapan kau membuka hati?” itu
dan itu saja yang kalian bicarakan.
Bosan, aku bosan dengan kalian
seperti mendengarkan kaset tipe yang syairnya itu dan itu.
(*^*)
Taukah kalian aku yang menjalani
ini punya hati seperti apa, aku sendiri tak ingin terpuruk seperti ini. Aku
juga ingin seperti wanita kebanyakan. Bertemu pria, cocok dan memutuskan untuk
hidup bersama. Gampangkan, tapi semua itu tak seperti semudah kalian pikirkan. Aku sudah berusaha
untuk berkenalan dengan banyak pria dan mencoba untuk memahami mereka. Tetapi,
memang sulit bagiku untuk membohongi diri ini, bahwa tak ada getar dan rasa
tertarik pada mereka.
(*^*)
Akhirnya ku putuskan untuk
mengikuti apa yang kalian inginkan, dan aku memutuskan untuk ikut perjodohan.
Perjodohan dengan pria yang ku tak
kenal sebelumnya, memang bukan ide yang baik.
Walau begitu semua ini harus ku jalani demi kalian. Dan berharap ini
bisa membuat kalian semua bahagia jika melihatku segera menikah.
Sangat lancar, dengan pertemuan keluarga
sekali saja, langsung diputuskan untuk tanggal baik pernikahan. Sepertinya ini
terjadi karena memang ini yang tuhan inginkan, dalam hitungan bulan aku
dan Akmal menikah.
(*^*)
Ya nama suamiku Akmal, dia pria
dari keluarga baik-baik. Dengan tinggi 170cm, bekerja disalah satu lembaga
pemerintah dan memiliki karier yang cemerlang. Mungkin karna hal itu yang
membuatku mau hidup dengannya. Dia tidak romantis dan juga tidak banyak bicara,
tetapi dia sangat perhatian dan menyayangiku. Walau dia tau kalau aku setengah
hati menjalani pernikahan ini.
Karena membawa nama baik
keluarga, aku berusaha untuk menjadi istri yang baik dan bisa melayani suami.
Aku tak mau menjadi objek ocehan
keluarga karena sikapku yang tak baik.
(*^*)
Dua tahun berlalu, aku dan akmal
menjalani hidup berumah tangga. Tak pernah sekalipun dia protes dengan hal yang
aku lakukan. Bahkan dia mendukung semua aktifitasku termasuk menghabiskan uang
belanja bulanan demi kesenangan diri sendiri. Aku tak peduli betapa kerasnnya
usaha Akmal mencari uang , yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana aku bisa
menikmati hidup dalam kesenangan yang tanpa batas.
(*^*)
Suatu ketika tak sengaja aku
masuk kedalam ruang kerjannya, dengan perlahan aku membuka pintu dan ku lihat
disekeliling banyak sekali poto-potoku yang dipajang disana, hasil dari akmal mengambil
gambarku selalma ini secara diam-diam.
“wah, hebat…luaar biasa” dalam
hati ku berkata dan aku merasa tersanjung, ternyata selama ini dia mengagumiku.
Setelah itu aku mencoba duduk di
kursi yang biasa dia gunakan kalau sedang bekerja dan dengan tidak sengaja aku
mencoba membuka buku usang yang ada di atas meja kerjanya.
Perlahan dan pelan-pelan aku
membaca tulisan tangan yang tidak begitu bagus tercipta di lembaran buku itu. Aku
terkejut, ternyata selama ini dia adalah pria yang rapuh dan pria yang sangat
membutuhkan perhatian ku. Kadang dalam masalah ia ingin sekali bercerita
denganku, kadang dalam bahagia ia ingin sekali berbagi denganku. Tapi, apa yang
kulakukan selama ini aku menutup diri dan membuat ia takut untuk mengutarakan
semua itu. Karna tak ingin aku gerah dan bosan.
Sungguh diluar dugaanku,
seharusnya selama ini aku mengucapkan syukur pada tuhan, bahwa telah
dipertemukan dengan pria pilihan keluargaku yang baik dan sesempurna kamu.
“Akmal, Akmal, Akmaal…..”nama itu mulai ku sebut dan
semakin ku panggil nama itu aku mulai merasa hati ini bergetar.
Dan aku jatuh cinta, cinta yang
tertunda selama dua tahun, cinta yang selama ini tak kusadari dan ku syukuri
keberadaannya.
“Tuhan, berikan aku kesempatan, untuk membahagiakan dan berbahagia dalam rumah
tangga ini” kuberdo’a dalam hati.
“Assalamualaikum” suara seorang
pria yang tak asing lagi ku dengar, dan suara itu tiba-tiba memecah keheningan
rumahku. Aku langsung bergegas untuk membukakan pintu.
“walaikumsalam warohmatullahi
wabarokatuh” aku langsung bergegas mendekati suamiku, dan mengambil tangannya
lalu kuciumi tangan yang kokoh itu. Damai, damai hati yang kurasa, setelah pertama kalinya aku mencium tangan suamiku.
(*^*)
Mungkin ia merasa heran mengapa
sikapku berubah, tapi ia tak bertanya
mengapa aku bisa begini. Yang pasti mulai saat ini aku berjanji akan memulai
menjalani hidup rumah tangga yang indah dan berbahagia.
Walau sebenernya tertunda sangat
lama, tetapi lebih baik terlambat dari pada aku menyesal nantinya. Ku kan
berjanji dalam hati akan mencintai dan menyayanginya setulus hati.
(*^’) : ini hanya khayalku saja,
tapi dari cerita ini, saya berharap kalau kamu memiliki seorang kekasih,
jagalah ia sepenuh hati. Dan jika yang belum memiliki pasangan jangan pernah
putus asa karna jodoh tidak lama lagi akan datang disaat yang tepat, waktu yang
tepat dan dan orang yang tepat. Percayalah.