Rabu, 30 November 2011

DIA BUKAN PILIHAN, TETAPI DIA ADALAH YANG TERBAIK


Setiap pulang kerumah itu-itu saja yang dibahas, bosan dan muak aku mendengar ocehan kalian, apakah tidak ada pertanyaan lain? Atau pun pembicaraan yang lain?
“kapan kau bawa pacar mu kerumah?, kapan kau mulai memikirkan pernikahan?, Kapan kau membuka hati?” itu dan itu saja yang kalian bicarakan.
Bosan, aku bosan dengan kalian seperti mendengarkan kaset tipe yang syairnya itu dan itu.
(*^*)
Taukah kalian aku yang menjalani ini punya hati seperti apa, aku sendiri tak ingin terpuruk seperti ini. Aku juga ingin seperti wanita kebanyakan. Bertemu pria, cocok dan memutuskan untuk hidup bersama. Gampangkan, tapi semua itu tak seperti  semudah kalian pikirkan. Aku sudah berusaha untuk berkenalan dengan banyak pria dan mencoba untuk memahami mereka. Tetapi, memang sulit bagiku untuk membohongi diri ini, bahwa tak ada getar dan rasa tertarik pada mereka.
(*^*)
Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti apa yang kalian inginkan, dan aku memutuskan untuk ikut perjodohan.
Perjodohan dengan pria yang ku tak kenal sebelumnya, memang bukan ide yang baik.  Walau begitu semua ini harus ku jalani demi kalian. Dan berharap ini bisa membuat kalian semua bahagia jika melihatku segera menikah.
 Sangat lancar, dengan pertemuan keluarga sekali saja, langsung diputuskan untuk tanggal baik pernikahan. Sepertinya ini terjadi karena memang ini yang tuhan inginkan, dalam hitungan bulan aku dan  Akmal menikah.
(*^*)
Ya nama suamiku Akmal, dia pria dari keluarga baik-baik. Dengan tinggi 170cm, bekerja disalah satu lembaga pemerintah dan memiliki karier yang cemerlang. Mungkin karna hal itu yang membuatku mau hidup dengannya. Dia tidak romantis dan juga tidak banyak bicara, tetapi dia sangat perhatian dan menyayangiku. Walau dia tau kalau aku setengah hati menjalani pernikahan ini.
Karena membawa nama baik keluarga, aku berusaha untuk menjadi istri yang baik dan bisa melayani suami. Aku tak mau menjadi objek  ocehan keluarga karena sikapku yang tak baik.
(*^*)
Dua tahun berlalu, aku dan akmal menjalani hidup berumah tangga. Tak pernah sekalipun dia protes dengan hal yang aku lakukan. Bahkan dia mendukung semua aktifitasku termasuk menghabiskan uang belanja bulanan demi kesenangan diri sendiri. Aku tak peduli betapa kerasnnya usaha Akmal mencari uang , yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana aku bisa menikmati hidup dalam kesenangan yang tanpa batas.
(*^*)
Suatu ketika tak sengaja aku masuk kedalam ruang kerjannya, dengan perlahan aku membuka pintu dan ku lihat disekeliling banyak sekali poto-potoku yang dipajang disana, hasil dari akmal mengambil gambarku selalma ini secara diam-diam.
“wah, hebat…luaar biasa” dalam hati ku berkata dan aku merasa tersanjung, ternyata selama ini dia mengagumiku.
Setelah itu aku mencoba duduk di kursi yang biasa dia gunakan kalau sedang bekerja dan dengan tidak sengaja aku mencoba membuka buku usang yang ada di atas meja kerjanya.
Perlahan dan pelan-pelan aku membaca tulisan tangan yang tidak begitu bagus tercipta di lembaran buku itu. Aku terkejut, ternyata selama ini dia adalah pria yang rapuh dan pria yang sangat membutuhkan perhatian ku. Kadang dalam masalah ia ingin sekali bercerita denganku, kadang dalam bahagia ia ingin sekali berbagi denganku. Tapi, apa yang kulakukan selama ini aku menutup diri dan membuat ia takut untuk mengutarakan semua itu. Karna tak ingin aku gerah dan bosan.
Sungguh diluar dugaanku, seharusnya selama ini aku mengucapkan syukur pada tuhan, bahwa telah dipertemukan dengan pria pilihan keluargaku yang baik dan sesempurna kamu.
“Akmal,  Akmal, Akmaal…..”nama itu mulai ku sebut dan semakin ku panggil nama itu aku mulai merasa hati ini bergetar.
Dan aku jatuh cinta, cinta yang tertunda selama dua tahun, cinta yang selama ini tak kusadari dan ku syukuri keberadaannya.
“Tuhan, berikan aku kesempatan, untuk  membahagiakan dan berbahagia dalam rumah tangga ini” kuberdo’a dalam hati.
“Assalamualaikum” suara seorang pria yang tak asing lagi ku dengar, dan suara itu tiba-tiba memecah keheningan rumahku. Aku langsung bergegas untuk membukakan pintu.
“walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh” aku langsung bergegas mendekati suamiku, dan mengambil tangannya lalu kuciumi tangan yang kokoh itu. Damai, damai hati yang kurasa, setelah  pertama kalinya aku mencium tangan suamiku.
(*^*)
Mungkin ia merasa heran mengapa sikapku berubah, tapi ia tak  bertanya mengapa aku bisa begini. Yang pasti mulai saat ini aku berjanji akan memulai menjalani hidup rumah tangga yang indah dan berbahagia.
Walau sebenernya tertunda sangat lama, tetapi lebih baik terlambat dari pada aku menyesal nantinya. Ku kan berjanji dalam hati akan mencintai dan menyayanginya setulus hati.

(*^’) : ini hanya khayalku saja, tapi dari cerita ini, saya berharap kalau kamu memiliki seorang kekasih, jagalah ia sepenuh hati. Dan jika yang belum memiliki pasangan jangan pernah putus asa karna jodoh tidak lama lagi akan datang disaat yang tepat, waktu yang tepat dan dan orang yang tepat. Percayalah.

Selasa, 29 November 2011

KALA SENJA ITU


Senja dikota kecil, mebuat ku berhenti sejenak melihat langit di angkasa, indah nan biru sempura tanpak warnanya, semilir angin meniup tubuh yang lelah ini. Tapi indah ini tak sempurna karna ku tak bersama dengan mu, kau yang ku cinta, kau yang ku banggakan.Dan kau yang selalu memacu detak jantungku sehingga kukadang tak dapat mengendalikan pikiranku karna dipenuhi dengan bahagia bersamamu.
(*^*)
Ku berkata dalam hati, “andai kau disini, mungkin ini akan menjadi senja terindah yang kulalui setelah tak lagi bersamamu”.
(*^*)
Mengapa di tempat seramai ini aku merasa sepi, aku merasa sendiri, aku rapuh. Apakah kau tau itu?
Kau dan aku dipisahkan bukan karna kita tak cinta, bukan karna tak mampu mempertahankan hubungan, tetapi kita berpisah demi kebahagian orang lain. Sesak napasku, bagai terhenti denyut jantungku mengingat kau tak lagi bersamaku, kau tak lagi milikku, kau tak dapat ku lihat maupun ku sentuh.
Mengapa, mengapa takdir memisahkan kita disaat kita ingin bahagia, kita ingin bersama dan tak pernah terpintas di khayal kita bahwa ada orang lain yang menderita dengan hubungan ini. Mengapa, kepada siapa aku harus bertanya.
Mengingatmu bagai membuka lebaran terdalam dari hatiku, hatiku yang telah hancur berkeping-keping.
(*^*)
Senja ini menjadi sendu, ia mengerti apa yang ku rasakan tetapi ia tak bisa mengobati hatiku yang dalam, ia hanya tersenyum dengan hangatnya yang mulai pudar sore ini, langit pun ikut bersedih warnanya berubah orange, tak biru lagi.
(*^*)
Sayang, ku berharap kau tau isi hati ini, walau kau tak bersama ku lagi, ku ingin kau mengerti ini. Walau ku tak berharap waktu untuk kembali, tapi ku hanya ingin kau tau. Bahwa rasa itu abadi. Seabadi kisah yang pernah kita lewati.
                Sakit, pedih, sedih ini tak ingin ku bagi, karna ini bukan rasa yang terbaik. Saat ini ku berdoa, dimanapun kau berada kau bisa melupakan semua rasa sakit, pedih dan sedih. Kuharap kau hanya ingat indah senja saat kita bersama dan biarkan itu tetap indah dalam lembaran kisah masalalumu.
                Kuhanya bagian kepingan masalalu.  walau kau tak tau doa yang selalu ku panjatkan buatmu, ku berharap  tetap menjadi sisi indah dalam hidupmu yang mengisi ruang hati terdalam sampai kau pergi dan tak pernah kembali.
“Jangan letih mencintaiku” itulah kalimat yang selalu kau ucapkan padaku kala senja itu.

(**NAHUOL**)

Minggu, 27 November 2011

Ku Tau Kau Ada

N A H U O L

Lama jua dia tak datang, mengapa dia datang sesuka hatinya. Aku kadang benci dengannya, tapi kadang aku rindu padanya. Hari-hari yang kulalui bersamanya sangat kurindukan, menghabiskan waktu berdua bercerita tentang masa depan yang indah dan bahagia. Dulu aku tak suka berandai-andai, karna bagiku itu bukan hal yang menarik. Tapi sejak ku kenal dia aku hidup dengan dunia yang berbeda, setiap langkah dan tarikkan nafasku aku berimajinasi bersamanya. Tapi itu dulu.

(*-*)

Memiliki rumah sederhana, kolam ikan dan sebidang kebun yang ditanami bunga dan sayuran kesukaannya. Itu impian kami, memiliki anak-anak yang tumbuh sehat, pintar dan bahagia itu impian kami. Aku dan dia berharap rumah kami bisa membuat orang-orang disekeliling ikut bahagia dan merasakan cinta kasih yang kami punya. 

“duh indahnya berdua”….kalimat itu lah yang  sering kami ucapkan diujung pembicaraan yang panjang.

(*-*)

Dia bukan pria kaya, bukan juga pria keren dan modern, tetapi dia pria yang memiliki segudang bakat dan keyakinan bahwa esok hidupnya akan lebih baik dan dia bisa membahagiakan ku. Ku berterimakasih padanya karna akan menjadikan ku ratu dalam hidupnya dan akan memberikan anak-anak yang banyak buatnya biar bisa membuat kerajaan besar di keluarga kecil kami kelak.

Sungguh, kurindu padannya, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Lama tak berjumpa atau pun mendengar kabarnya membuatku lumanyan tersiksa. Mungkin Kini dia telah memiliki teman yang dapat melanjutkan kisah-kisah yang akan dia ukir dalam hidupnya.

Tak banyak yang dia berikan padaku selama kami bersama. Tapi banyak hal yang ia ajarkan padaku mengenai kehidupan, kedewasaan dalam menyelesaikan masalah dan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan hal itu tidak aku dapatkan dari yang lain. Walau kini aku telah bersama yang lain,  tetapi dia tetap memiliki tempat tersendiri dihati ini.

Dia tidak pernah memintaku untuk memujanya, dia tidak pernah meminta padaku untuk tidak melupakannya. Tapi dia hanya meminta ku untuk hidup lebih baik dan mejadi gadis yang lebih baik lagi demi masa depanku.
Kutau dia menjauh bukan untuk meninggalkanku, tetapi ia menjauh untuk menjagaku dari hal-hal yang tidak ia inginkan.

Hari ini hujan turun lagi, ku merasakan kehadirannya disisiku menemaniku menyelimutiku dengan kasih dan sayang nya dan suaranya berbisik. “Kau harus tegar, kau harus hidup lebih baik lagi. Karna kau pantas untuk bahagia”….

Walau tubuhku di basahi deraian air hujan tapi ku tak merasakan dinginnya, yang kurasakan kehangatan kehadirannya menemaniku menghadapi esok yang ku tak tau apa yang akan terjadi.

Doaku semoga kau di sana baik-baik saja, seperti diriku disini juga baik-baik saja.

LOVE  :))

***N A H U O L***

Selasa, 22 November 2011

KEKASIH GELAPKU

Add caption

Selalu dipertemukan dengan orang yang salah. Kadang merasa aneh kenapa harus di pertemukan dengan orang yang sebenarnya ngak pernah ku bayangkan sebelumnya. Kadang rasa memaklumi kekurangan orang-orang yang baru ku kenal sangat besar. Walau sejujurnya tidak semuanya kujalani dengan tulus hati, tapi aku lebih belajar menghargai perasaanNYA agar tidak berkecil hati.
                Tapi apa yang terjadi setalah aku memaklumi banyak hal, kekurangan dari orang itu, malah bukan  yang menyenangkan yang aku terima. Kecewa selalu kualami. Seperti perkenalan ku dengan salah satu kakak tingkat waktu kuliah.
                Sejujurnya aku tidak begitu ingat dengan sosoknya, aku hanya tau kalau dia pernah belajar di kampus yang sama dengan ku. Hanya bermodal beberapa orang yang disebutkannya yang aku kenal dia membincangkan banyak hal dengan ku seolah-olah kita dulu satu permainan.
                “Kamu angkatan berapa” seranyanya menyapaku.
                “Boleh ngak minta No. Hpnya” dia mencoba mendekatiku.
                “Boleh senior”, aku membalas sapaannya.
                Sejak dia tau nomor henponku, dia selalu berusaha menyapaku dan memberi sedikit perhatian, sampai-sampai aku menjadi terbiasa berkomunikasi dengannya baik di jejaring sosial maupun lewat henpon. Aku percaya dengan apa yang diceritakannya soal kehidupannya, karna menurutku tidak ada salahnya mempercayai orang yang baru kita kenal. Semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya, karna aku suka menceritakan hal-hal yang tidak dapat kita ceritakan dengan teman dikantor ataupun keluarga.
                Hampir setiap malam kami ngobrol, sampai pada suatu ketika.
                “Aku suka dengan mu” suara diujung telpon terdengar merdu ditelingaku. Aku seakan ngak percaya apa yang di ucapkannya, karna yang aku tau dia sudah punya pasangan dan begitu juga denganku. Kami sudah saling mengetahui bahwa kami sudah sama-sama punya pasangan. Ya mungkin karna kecocokan dalam pemikiran dan pembicaraan makanya kami kadang sampai tidak mempedulikan perasaan pasangan kami masing-masing.
                Akhirnya kami membuat hubungan baru yang hanya kami berdua saja yang mengerti apa nama hubungan itu dan kami saling berjanji untu lebih memproritaskan kehidupan kami masing-masing yang telah kami jalani sebelum kami berkenalan.
                Waktu terus berlalu dan sampailah pada saat ku iseng mencoba mencari tau bagaimana keadaan dia dari teman-temannya, di luar dugaan ternyata aku di bohongi. “Duh” lumanyan kecewa dari perkenalan itu aku terlalu jujur menceritakan tentang ku, berbeda dengannya yang membohongiku kalau dia telah beristri dan mempunyai anak perempuan. Itu ternyata hanya sebuah alasan agar aku tidak menuntut lebih dari hubungan ini.
                Karena kami tinggal di kota yang berbeda. jadi untungnya kami hanya berkomitmen via telpon dan blom pernah bertemu, walau sebelumnya kami punya rencana untuk bertemu. Setelah aku mengetahui hal itu, aku tidak punya keinginan  bertanya dan minta penjelasan darinya, tapi aku hanya menikmati cerita-cerita bohong yang di sampaikannya padaku.
                Setiap hari kami berkomunikasi dan membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Dan ingin rasanya aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengannya dan menghentikan semua ini. Dia semu, dan dia hanya pria khanyalan seperti di dongeng-dongen.
Saat aku berusaha meninggalkannya dan menceritakan apa yang telah aku ketahui mengenainya, tapi kurasa tak sanggup kehilangan suara itu, suara yang menemani malamku, suara yang selalu menghiburku melebihi kekasihku.
                Seorang pria yang telah memiliki kekasih dan telah masuk dalam kehidupanku perlahan dia pergi setelah dia merasa aku bukan lagi teman yang asyik untuk diajak berbincang seperti awal dia memencet nomor henponku. Dia mulai mencoba mundur dari kehidupanku setelah ia menjadi kekasih gelapku.
                Ya benar kamu kekasih gelapku, yang hanya mencari teman disaat kau sendiri tak memiliki teman untuk berbincang dan bertukar pikiran. Sekarang dia telah menumukan kenyamanan dengan kekasihnya. Aku menyesal mengijinkannya mengetahui no. henponku. Dan aku menyesal memaklumi keadaanmu. Kini kurasa kau tak layak berkenalan denganku apalagi menjadi kekasih gelapku.

*** G E R I M I S***