![]() |
| Add caption |
Selalu dipertemukan dengan orang yang salah. Kadang merasa aneh kenapa harus di pertemukan dengan orang yang sebenarnya ngak pernah ku bayangkan sebelumnya. Kadang rasa memaklumi kekurangan orang-orang yang baru ku kenal sangat besar. Walau sejujurnya tidak semuanya kujalani dengan tulus hati, tapi aku lebih belajar menghargai perasaanNYA agar tidak berkecil hati.
Tapi apa yang terjadi setalah aku memaklumi banyak hal, kekurangan dari orang itu, malah bukan yang menyenangkan yang aku terima. Kecewa selalu kualami. Seperti perkenalan ku dengan salah satu kakak tingkat waktu kuliah.
Sejujurnya aku tidak begitu ingat dengan sosoknya, aku hanya tau kalau dia pernah belajar di kampus yang sama dengan ku. Hanya bermodal beberapa orang yang disebutkannya yang aku kenal dia membincangkan banyak hal dengan ku seolah-olah kita dulu satu permainan.
“Kamu angkatan berapa” seranyanya menyapaku.
“Boleh ngak minta No. Hpnya” dia mencoba mendekatiku.
“Boleh senior”, aku membalas sapaannya.
Sejak dia tau nomor henponku, dia selalu berusaha menyapaku dan memberi sedikit perhatian, sampai-sampai aku menjadi terbiasa berkomunikasi dengannya baik di jejaring sosial maupun lewat henpon. Aku percaya dengan apa yang diceritakannya soal kehidupannya, karna menurutku tidak ada salahnya mempercayai orang yang baru kita kenal. Semakin hari aku semakin mengagumi sosoknya, karna aku suka menceritakan hal-hal yang tidak dapat kita ceritakan dengan teman dikantor ataupun keluarga.
Hampir setiap malam kami ngobrol, sampai pada suatu ketika.
“Aku suka dengan mu” suara diujung telpon terdengar merdu ditelingaku. Aku seakan ngak percaya apa yang di ucapkannya, karna yang aku tau dia sudah punya pasangan dan begitu juga denganku. Kami sudah saling mengetahui bahwa kami sudah sama-sama punya pasangan. Ya mungkin karna kecocokan dalam pemikiran dan pembicaraan makanya kami kadang sampai tidak mempedulikan perasaan pasangan kami masing-masing.
Akhirnya kami membuat hubungan baru yang hanya kami berdua saja yang mengerti apa nama hubungan itu dan kami saling berjanji untu lebih memproritaskan kehidupan kami masing-masing yang telah kami jalani sebelum kami berkenalan.
Waktu terus berlalu dan sampailah pada saat ku iseng mencoba mencari tau bagaimana keadaan dia dari teman-temannya, di luar dugaan ternyata aku di bohongi. “Duh” lumanyan kecewa dari perkenalan itu aku terlalu jujur menceritakan tentang ku, berbeda dengannya yang membohongiku kalau dia telah beristri dan mempunyai anak perempuan. Itu ternyata hanya sebuah alasan agar aku tidak menuntut lebih dari hubungan ini.
Karena kami tinggal di kota yang berbeda. jadi untungnya kami hanya berkomitmen via telpon dan blom pernah bertemu, walau sebelumnya kami punya rencana untuk bertemu. Setelah aku mengetahui hal itu, aku tidak punya keinginan bertanya dan minta penjelasan darinya, tapi aku hanya menikmati cerita-cerita bohong yang di sampaikannya padaku.
Setiap hari kami berkomunikasi dan membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Dan ingin rasanya aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengannya dan menghentikan semua ini. Dia semu, dan dia hanya pria khanyalan seperti di dongeng-dongen.
Saat aku berusaha meninggalkannya dan menceritakan apa yang telah aku ketahui mengenainya, tapi kurasa tak sanggup kehilangan suara itu, suara yang menemani malamku, suara yang selalu menghiburku melebihi kekasihku.
Seorang pria yang telah memiliki kekasih dan telah masuk dalam kehidupanku perlahan dia pergi setelah dia merasa aku bukan lagi teman yang asyik untuk diajak berbincang seperti awal dia memencet nomor henponku. Dia mulai mencoba mundur dari kehidupanku setelah ia menjadi kekasih gelapku.
Ya benar kamu kekasih gelapku, yang hanya mencari teman disaat kau sendiri tak memiliki teman untuk berbincang dan bertukar pikiran. Sekarang dia telah menumukan kenyamanan dengan kekasihnya. Aku menyesal mengijinkannya mengetahui no. henponku. Dan aku menyesal memaklumi keadaanmu. Kini kurasa kau tak layak berkenalan denganku apalagi menjadi kekasih gelapku.
*** G E R I M I S***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar